Minggu, 05 Juni 2016

Cerita Penutup Kepala


Salah satu warisan budaya kita yang sering terlewatkan adalah penutup kepala. Berbagai bentuk, cara dan penggunaan bahan yang mewakili berbagai daerah di Indonesia, antara lain, Aceh, Karo, Nias. Bermacam-macam tutup kepala dengan berbagai istilah, seperti kuluk atau tekuluk digunakan diberbagai propinsi dikepulauan Indonesia, selain sebegai penanda derajat atau suku, juga memiliki fungsi praktis seperti melindungi kepala dari cuaca. Karena kepala merupakan bagian tubuh yang sacral dan sangat dilindungi.


Belakangan ini penutup kepala menjadi popular kembali melalui busana-busana yang mengacu pada tata cara busana yang agamis. Sehingga kita perlu mengenali beberapa gaya penutup yang dapat menginspirasi para perancang busana dalam mewujudkan total outlooknya. Sebagai pembanding kita dapat juga melihat beberapa penutup kepala yang ada pada masyarakat negeri-negeri lain selain apa yang merupakan bagian dari warisan budaya kita sendiri.

Inovasi dalam Fashion ( Kemampuan akan terobosan-terobosan kreatif )


Tumbuhnya angkatan kerja, yang besar dibanding kebutuhan dan daya serap yang ada. Sementara perkembangan teknologi semakin meniadakan kebutuhan tenaga kerja. Semua harus diantisipasi oleh kreativitas yang harus lahir dari insan muda. Persaingan dinamika yang menjadikan kehidupan muda, menjadi dinamis dan mungkin juga chaotic. Meninspirasikan warna-warna yang aneka ragam, colorfull, tekstur yang beragam dalam komposisi tidak lazim, dalam siluet yang bebas.

Spektakuler dalam Fashion ( Kehadiran pribadi yang unik Sedang )


Adanya pertumbuhan penduduk yang cepat juga diiringi dengan semakin jauhnya perbedaan tingkat ekonomi, mendorong keinginan seorang untuk tampil dan hadir secara menyolok, dalam keadaan masyarakat yang cenderung materialistis. Warna-warna glamor seperti emas dan perak. Siluet monumental dan texture yang bebas.