Nama saya Leni Ardiyanti, saya anak
ketiga dari 3 bersaudara. Umur saya ditahun ini menginjak angka kepala dua
yaitu 20 tahun. Sekarang saya sudah memasuki kuliah tingkat 3 ( semester 5 ).
Saya berkuliah karna faktor dukungan dari keluarga dan juga kemauan dari diri
sendiri. Saya mempunyai 2 kakak, dua-duanya berjenis kelamin perempuan, jarak
saya dengan kakak pertama 10 tahun, dan jarak saya dengan kakak saya yang kedua
7 tahun. Saya sayang sekali dengan kedua kakak saya. Saya paling dekat sekali dengan
kakak saya yang pertama, dari saya memasuki Sekolah Dasar ( SD ) saya selalu
ditemani oleh kakak saya, disaat mengerjakan pekerjaan rumah ( PR ) pun saya
selalu diajari oleh kakak saya, mungkin juga karna faktor orangtua saya yang
sibuk bekerja. Saya tidak pernah dimanja oleh orangtua saya dan kakak-kakak
saya, tetapi saya yang selalu memanjakan diri saya dengan mereka, karna
dipikiran saya anak terakhir itu identik dengan dimanja oleh keluarganya. Saat
saya memasuki Sekolah Dasar ( SD ), saya merasa malu dan takut melihat
teman-teman yang banyak karna sebelumnya saya tidak TK terlebih dahulu
melainkan langsung memasuki Sekolah Dasar. Dihari pertama saya masuk, Ibu guru
( Almh Nurmawati ) menanyakan “siapa namanya?” saya diam dan menangis karna
takut, namun mama yang memberikan nasihat kepada saya “jangan takut, harus
berani katanya mau sekolah” ujar mama. Dari situlah saya mulai berani untuk
berbicara dan memberitahukan siapa nama saya. Hari demi hari saya lalui
disekolah, satu per-satupun saya mengenali nama-nama teman saya. Dan yang
tadinya saya malu, takut karna belum saling kenal, semakin kesini saya semakin
berani untuk bercengkrama dengan yang lain. Sesampainya dirumah, saya pun tidak
langsung main dengan teman-teman disekitar, melainkan saya belajar membaca dari
yang mengeja huruf-huruf vocal, sampai latihan menulis sambil mengeja hurufnya.
Saya pun dirumah tidak diajarkan untuk bermalas-malasan, akan tetapi saya
ditugaskan untuk merapikan rumah, menyapu dan mengepel. Kegiatan itu rutin
setiap hari saya kerjakan. Semakin bertambahnya umur, saya pun sudah memasuki
kelas 6 SD, dimana ini adalah kelas terakhir saya untuk bisa lulus dari sekolah
dengan nilai yang memuaskan. Rutinitas sekolah yang masuk mulai dari jam 06.00
sampai jam 17.00 saya lewati selama duduk dibangku kelas 6 selama satu bulan. Sampai
akhirnya ujian tiba, saya merasa deg-degan karena ini kali pertamanya saya
mengikuti ujian. Selama 3 hari menjalankan ujian, tibalah hari pengumuman di
bagikan, dimana hari ini adalah hari yang paling dinanti semua anak sekolah
dasar. Amplop pun dibagikan, dengan rasa sangat percaya diri orangtua saya pun
membuka amplopnya. Dan.. amplop pun bertuliskan LULUS. Hal ini tentu sangat
menyenangkan buat saya. Beberapa bulan kemudian saya masuk SMP. Hari pertama
saya masuk dikelas 7, saya belum mengenal yang lain satu per-satu, akan tetapi
seiiring berjalannya waktu saya mengenal semua nama yang ada di kelas saya. Di
kelas 8 yaitu kelas 2 SMP, saya mengikuti ekstrakurikuler diantaranya : basket,
taekwondo, dan renang. Saya mengikuti basket dan renang hanya dalam kurun waktu
sebulan saja, akan tetapi untuk taekwondo saya mengikutinya sampai saya
mengikuti ujian, dan itu tidak sampai saya kelas 9. Dikelas 9 saya tidak
melanjutkan ekskul dikarenakan ingin fokus terhadap ujian nasional ( UN ) dan
ujian sekolah ( US ). Sampai akhirnya saya dititik dimana pada hari itu adalah
waktu saya mengikuti ujian nasional disekolah selama 4 hari. Dua minggu setelah
ujian, pengumuman pun dibagikan serontak hati saya pun deg-degan, setelah
amplop dibagikan, saya pun langsung membukanya dan disitu bertuliskan LULUS.
Ini moment yang sangat mengembirakan buat saya. Tidak lama dari pengumuman
dibagikan, saya pun mendaftar di Sekolah Menengah Atas ( SMA ). Dan saya pun
masuk Sekolah Menengah Atas. Hari pertama masuk dikelas, sama seperti pada
halnya anak murid baru yang masih canggung dengan teman-teman yang lain. Namun
seiiring berjalannya waktu saya pun mengenal nama anak-anak kelas X ( 10 ) satu
per-satu. Dikelas X ( 10 ) belum menentukan jurusan, tetapi masih sama belajar
seperti biasanya yang digabung semua mata pelajarannya. Dikelas X saya tidak
mengerti pelajaran ekonomi, sebenarnya bukan tidak mengerti tetapi karna
gurunya yang tidak saya sukai, oleh karena itu saya jadi tidak suka pada mata
pelajaran tersebut. Pada pelajaran agama, guru yang mengajarkan mata pelajaran
agama kurang saya sukai karena terlalu tegas dan terlalu disiplin pada tugas
dan penjelasan nya dikelas. Pada suatu hari guru agama mengajarkan tentang cara
sholat kepada kami semua, tetapi hanya beberapa orang saja yang disuruh maju
untuk mempraktikan nya didepan kelas. Untungnya saya tidak kebagian pada tugas
ini, karna saya takut dengan guru pembimbing agama. Setelah saya menginjak
kelas XI ( 11 ) disinilah baru ada penjurusan IPA / IPS. Saya memilih untuk
mengambil jurusan IPA karena saya sangat senang dengan pelajaran biologi,
fisika, dan kimia. Pada pelajaran biologi pelajaran yang paling saya senangi
adalah tentang pertumbuhan makhluk hidup, dimana pelajaran ini membahas tentang
struktur organ pertumbuhan yang membuat saya mengenali sistem organ tubuh
manusia maupun tumbuhan. Pada pelajaran kimia saya paling menyukai tentang
zat-zat apa saja yang dapat merubah warna, dari cairan yang satu di gabungkan
dengan cairan yang lain dan akan berubah menjadi suatu unsur. Pada pelajaran
fisika, saya sangat menyukai tentang pelajaran molekul-molekul yang terdapat
pada suatu momen. Singkat cerita, saya memasuki kelas XII ( 12 ) dimana ini
adalah kelas akhir bagi saya karna sudah 12 tahun lamanya menginjak bangku
sekolah. Ujian pun berlangsung selama 4 hari, dimana sehari ada 2 mata
pelajaran yang diujikan pada ujian kali ini, berbeda dari SD dan SMP yang hanya
satu mata pelajaran dalam sehari. Sebulan setelah melaksanakan ujian,
pengumuman pun di umumkan. Hari ini adalah hari yang sangat mendebarkan bagi
saya dan teman-teman yang lain, karena hari ini adalah penentuan kami semua
lulus atau tidaknya. Amplop pun dibagikan, dan hasilnya sangat memuaskan, saya
dinyatakan LULUS dengan nilai yang memuaskan. Saya pun berkemauan kuat untuk
melanjutkan kuliah. Dimana sekarang saya harus bisa mulai berpikir bagaimana
caranya untuk bisa bersaing di dunia luar yang keras, bersaing di dunia kerja,
dikuliah pun juga harus bekerja keras agar mampu menyelesaikan tugas sebagai
Mahasiswi yang lulus dengan tepat waktu dan IPK memuaskan, hal ini pasti sangat
membanggakan dikeluarga saya. Kegiatan yang paling saya sukai ialah tidur,
nonton tv, membaca buku, membaca Koran/majalah, berolahraga. Awal mula sebelum
saya memasuki kuliah di Universitas Gunadarma, saya disarankan untuk tidak
langsung berkuliah tetapi menunda dulu satu tahun, dikarenakan faktor biaya
juga pada saat itu, tetapi akhirnya Allah memberi jalan untuk saya bisa
melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi ( kuliah ). Sebelum saya menentukan
untuk mengambil jurusan apa yang saya ingin ambil, kami berdiskusi terlebih
dahulu. Setelah melalui perdebatan panjang akhirnya saya mengambil jurusan
computer ( Sistem Informasi ) untuk saya meneruskan sekolah tinggi. Pada
dasarnya kuliah berbeda dengan sekolah, karna kuliah menuntut saya untuk bisa
bertanggung jawab atas apa yang telah saya pilih, dibandingkan sekolah yang hanya
menuntut saya untuk bisa menaati peraturan, disiplin dalam berpakaian, sopan
santun terhadap guru setiap mata pelajaran, dan untuk nilai, sekolah dan kuliah
sangat berbeda, dimana pada nilai disekolah kalau saya mendapatkan nilai merah
ada dilaksanakan Remedial, namun di kuliah tidak semua dosen akan melakukan
remedial pada mahasiswanya, hanya dosen-dosen yang mau saja yang melakukan
remedial. Selama saya mengikuti pelajaran di kuliah, saya tidak mengerti apa
yang diajarkan, karena ini babak baru untuk saya. Hari demi hari, minggu demi
minggu, bulan demi bulan, tahun demi tahun saya lewati di bangku kuliah, saya
belum mengerti apa yang diajarkan, pikiran saya masih bertanya-tanya “apa sih
yang diajarkan? Kok gue masih belom ngerti apa tujuannya?” ujar saya. Namun
saya tetap mengikutinya agar bisa mendapatkan IPK yang memuaskan. Tidak lama
semester 1 akan berakhir, saya pun mengikuti ujian selama seminggu, akan tetapi
tidak murni seminggu, namun dijeda dengan libur. Padahal sistem seperti ini
saya tidak menyukainya karna lebih enak kalau ujian benar benar langsung
seminggu, akan tetapi balik kebelakang lagi sistem di Universitas Gunadarma
ialah menyeluruh tidak bergantung pada Fakultas, oleh karena itu diadakan
sistem ujian sehari dijeda libur. Namun apadaya ini ketentuan dari pihak
Universitas. Semester 1 pun berlalu, berganti ke semester 2. Di semester 2 ini
saya dimusuhi oleh salah satu anak perempuan yang menjadi profokator untuk
memusuhi saya oleh anak-anak satu kelas. Hal ini membuat saya bingung, mengapa?
saya tidak mempunyai salah tetapi di musuhi satu kelas ?. saya pun tanpa pikir
panjang, biarkanlah mereka berkata apa tentang diri saya, toh saya tidak
mempunyai salah apa-apa yang membuat mereka membenci saya. Dan pada akhirnya
mereka yang telah memusuhi saya akhirnya meminta maaf kepada saya, karna mereka
juga adalah korban dari salah satu anak perempuan yang menjadi profokator
dikelas yang membuat anak-anak yang lain jadi memusuhi saya. Singkat cerita,
saya pun memasuki semester 3, dimana di semester inilah semua kelas dan semua
anak mahasiswanya diacak dan di pecah. Beruntung sekali saya tidak sekelas
dengan anak yang menjadi profokator di semester sebelumnya, dan baiknya lagi di
semester 3 atau di tingkat 2 saya menemukan sosok yang bearti di hidup saya.
Kesimpulan
: Hidup akan selalu berjalan dan akan selalu menemukan tempat dan suasana yang
baru. Maka dari itu, sebagai manusia social kita harus cepat beradaptasi dengan
baik. Dan jangan merasa selalu benar, memaksa oranglain untuk mengikuti kita.
Dan itulah prinsip yang saya buat dalam hidup saya, dan menjadi deskripsi
tentang diri saya.