Kamis, 30 April 2015

Pengalaman membuat keputusan dalam organisasi



Disini saya akan menceritakan tentang pengalaman saya dalam kelompok kerja yaitu Osis. Sebelumnya saya tidak tertarik untuk mengikuti kegiatan seperti ini akan tetapi karna dulu sewaktu ospek saya melihat dan memerhatikan sekelompok kakak kelas saya yang terjun langsung dalam hal meng-ospek adik kelasnya. Disitu saya berdua dengan teman saya mempunyai  planning untuk mendaftar menjadi Osis di salah satu SMA Wasta di Jakarta.
Seiring berjalannya waktu, kenaikkan tingkat kelas, saya pun mendaftar menjadi anggota osis dengan istilah mendemo dari kelas kekelas.Saya tidak ragu untuk masuk dari kelas X maupun sampai kelas XII. Setelah saya mendemokan diri saya untuk bisa terpilih menjadi anggota osis,  dan sampai akhirnya saya terpilih bukan hanya terpilih menjadi seorang anggota melainkan saya terpilih menjadi ketua osis pada sekolahsaya.Saya pun bangga pada diri saya karna bisa dipercaya oleh pihak sekolah untuk menjadi ketua osis.
Hari demi hari saya berubah karna sudah mempunyai tugas dan kewajiban untuk membangun dan memberikan apresiasi untuk sekolah saya.Segala macam tugas saya terima, sampai pada suatu hari saya berkumpul dengan anggota osis lain untuk rapat menyambut tahun ajaran baru dimana pada setiap tahun ajaran baru ada siswa/i untuk menjadi siswa baru di sekolah saya. Berkumpulnya kami para anggota osis untuk berdebat/mengajukan pendapat agar  ospek tahun ajaran ini berhasil dengan lancar. Banyaknya anggota osis saya pun bingung untuk mengambil keputusan karna setiap anggota mempunyai pendapat masing-masing. Sekian lama kami berdebat dan sampai akhirnya saya mengambil keputusan untuk pada hari pertama ospek kita mengadakan upacara bendera merah putih, kedua mencari kakak kelas yang terdaftar menjadi osis untuk meminta tanda tangannya, dan pada hari terakhir pelepasan balon yang ditandai telah selesainya ospek dan para siswa/i baru sudah resmi menjadi siswa/i di sekolah kami.
Menjadi seorang ketua bukan hal yang  mudah karena kita disibukkan dengan berbagai macam hal.Oleh karena itu kita harus pandai dalam mengambil keputusan, jangan ragu dalam mengambil keputusan karena kitaberhak atas itu semua.

Selasa, 28 April 2015

Jenis-jenis Pengambilan Keputusan



Masalah dan konflik terdapat di mana-mana. Beberapa di antaranya bersifat sederhana dan deterministik, sedangkan yang lain bersifat sangat kompleks dan probabilistik serta dapat menimbulkan pengaruh yang besar. Pengambilan keputusan dapat bersifat rutin dan memiliki struktur tertentu atau dapat juga bersifat sangat kompleks dan tidak berstruktur. Terdapat dua jenis pengambilan keputusan, yaitu :

1.       Pengambilan keputusan terprogram :

              Keputusan yang diprogram merupakan keputusan yang bersifat rutin dan dilakukan secara berulang-ulang, sehingga dapat dikembangkan suatu prosedur tertentu. Keputusan yang diprogram terjadi jika permasalahan terstruktur dengan baik dan orang-orang tahu bagaimana mencapainya. Permasalahan ini umumnya agak sederhana dan solusinya relatif mudah. Di perguruan tinggi keputusan yang diprogram misalnya keputusan tentang pembimbingan KRS, penyelenggaraan Ujian Akhir Semester, pelaksanaan wisuda, dan lain sebagainya (Gitosudarmo, 1997).
Jenis pengambilan keputusan ini.mengandung suatu respons otomatik terhadap kebijaksanaan-kebijaksanaan yang telah ditetapkan sebelumnya. Masalah yang bersifat pengulangan dan rutin dapat diselesaikan dengan pengambilan keputusan jenis ini. Tantangan yang besar bagi seorang analis adalah mengetahui jenis-jenis keputusan ini dan memberikan atau menyediakan metode-metode untuk melaksanakan pengambilan keputusan yang terprogram di mana saja. Agar pengambilan keputusan harus didefinisikan dan dinyatakan secara jelas. Bila hal ini dapat dilaksanakan, pekerjaan selanjutnya hanyalah mengembangkan suatu algoritma untuk membuat keputusan rutin dan otomatik. 
Dalam kebanyakan organisasi terdapat kesempatan-kesempatan untuk melaksanakan pengambilan keputusan terprogram karena banyak keputusan diambil sesuai dengan prosedur pelaksanaan standar yang sifatnya rutin. Akibat pelaksanaan pengambilan keputusan yang terprogram ini adalah membebaskan manajemen untuk tugas-tugas yang lebih penting.

2.      Pengambilan keputusan tidak terprogram :

       Keputusan yang tidak diprogram adalah keputusan baru, tidak terstrutur dan tidak dapat diperkirakan sebelumnya. Tidak dapat dikembangkan prosedur tertentu untuk menangani suatu masalah, apakah karena permasalahannya belum pernah terjadi atau karena permasalahannya sangat kompleks dan penting. Keputusan yang tidak diprogram dan tidak terstruktur dengan baik, apakah karena kondisi saat itu tidak jelas,metode untuk mencapai hasil yang diingankan tidak diketahui,atau adanya ketidaksamaan tentang hasil yang diinginkan(Wijono,1999).
      
Jenis keputusan dalam sebuah organisasi dapat digolongkan berdasarkan banyaknya waktu yang diperlukan untuk mengambil keputusan tersebut, bagian mana organisasi harus dapat melibatkan dalam mengambil keputusan dan pada bagian organisasi mana keputusan tersebut difokuskan.
Secara garis besar jenis keputusan terbagi menjadi dua bagian yaitu :

a.       Keputusan Rutin
Keputusan Rutin adalah Keputusan yang sifatnya rutin dan berulang-ulang serta biasanya telah dikembangkan untuk mengendalikannya.

b.      Keputusan tidak Rutin
Keputusan tidak Rutin adalah Keputusan yang tidak terencana biasanya diambil pada saat-saat khusus dan tidak bersifat rutin. 





Komentar :
Dari penjelasan jenis-jenis keputusan diatas bahwa setiap mengambil keputusan banyak pengaruhnya.  Besar kecilnya dalam mengambil keputusan tergantung situasi kita berada didalamnya.

Faktor-faktor Pengambilan Keputusan



Menurut Terry (1989) faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam mengambil keputusan sebagai berikut:
  1. hal-hal yang berwujud maupun tidak berwujud, yang emosional maupun rasional perlu diperhitungkan dalam pengambilan keputusan;
  2. setiap keputusan nantinya harus dapat dijadikan bahan untuk mencapai tujuan organisasi;
  3. setiap keputusan janganlah berorientasi pada kepentingan pribadi, perhatikan kepentingan orang lain;
  4. jarang sekali ada 1 pilihan yang memuaskan;
  5. pengambilan keputusan merupakan tindakan mental. Dari tindakan mental ini kemudian harus diubah menjadi tindakan fisik;
  6. pengambilan keputusan yang efektif membutuhkan waktu yang  cukup lama;
  7. diperlukan pengambilan keputusan yang praktis untuk mendapatkan hasil yang baik;
  8. setiap keputusan hendaknya dikembangkan, agar dapat diketahui apakah keputusan yang diambil itu betul; dan
  9. setiap keputusan itu merupakan tindakan permulaan dari serangkaian kegiatan berikutnya.
Kemudian terdapat enam faktor lain yang juga ikut mempengaruhi pengambilan keputusan.

1.    Fisik
Didasarkan pada rasa yang dialami pada tubuh, seperti rasa tidak nyaman, atau kenikmatan. Ada kecenderungan menghindari tingkah laku yang menimbulkan rasa tidak senang, sebaliknya memilih tingkah laku yang memberikan kesenangan.

2.    Emosional
Didasarkan pada perasaan atau sikap. Orang akan bereaksi pada suatu situasi secara subjective.

3.    Rasional
Didasarkan pada pengetahuan orang-orang mendapatkan informasi, memahami situasi dan berbagai konsekuensinya.

4.    Praktikal
Didasarkan pada keterampilan individual dan kemampuan melaksanakan. Seseorang akan menilai potensi diri dan kepercayaan dirinya melalui kemampuanya dalam bertindak.

5.    Interpersonal
Didasarkan pada pengaruh jaringan sosial yang ada. Hubungan antar satu orang keorang lainnya dapat mempengaruhi tindakan individual.

6.    Struktural
Didasarkan pada lingkup sosial, ekonomi dan politik. Lingkungan mungkin memberikan hasil yang mendukung atau mengkritik suatu tingkah laku tertentu.
Pendapat lain faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan adalah :
 
Keadaan intern organisasi. Keadaan intern organisasi bersangkut paut dengan apa yang ada di dalam organisasi tersebut. Keadaan intern organisasi antara lain meliputi dana yang tersedia, keadaan sumber daya manusia, kemampuan karyawan, kelengkapan dari peralatan organisasi, dan struktur organisasi.
 
2.      Keadaan ekstern organisasi. Keadaan ekstern organisasi bersangkut paut dengan apa yang ada di luar organisasi tersebut. Keadaan ekstern organisasi antara lain meliputi keadaan ekonomi, keadaan sosial, keadaan politik, keadaan hukum, keadaan budaya, dan sebagainya. Keputusan yang diambil harus memperhatikan situasi ekonomi, jika keputusan tersebut ada sangkut pautnya dengan ekonomi maka keputusan yang diambil tidak boleh bertentangan dengan norma-norma, hukum yang berlaku, dan peraturan-peraturan.
  1. Tersedianya informasi yang diperlukan. Dalam pengambilan keputusan informasi yang diperlukan haruslah lengkap dan memiliki sifat-sifat tertentu sehingga keputusan yang dihasilkan dapat berkualitas dan baik.
  2. Kepribadian dan kecakapan pengambilan keputusan. Kepribadian dan kecakapan pengambilan keputusan meliputi penilaiannya, kebutuhannya, intelegensinya, keterampilannya, kepastiannya, dan sebagainya. Nilai-nilai kepribadian dan kecakapan ini turut juga mewarnai tepat tidaknya keputusan yang diambil. Jika pengambil keputusan memiliki kepribadian dan kecakapan yang kurang, maka keputusan yang diambil juga akan kurang, demikian pula sebaliknya.




Komentar :
Penjelasan diatas membahas tentang faktor-faktor mengambil keputusan, dimana banyak pendapat yang membahas apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan. Dari penjelasan tersebut bisa kita terapkan pada diri kita untuk mengambil keputusan tergantung pada pembahasan apa yang sedang kita alami.